• noreply@kash-vc.com

  • 031- 87855714

  • Point : 0

Masuki New Normal, Pasar Properti Diyakini Segera Pulih

  • Jul 09, 2020

Anjloknya pasar properti nasional akibat pandemi Covid-19 kiranya tidak sepenuhnya terjadi di Surabaya. Pasalnya, presentasi penurunan yang terjadi di Surabaya jauh lebih kecil dibanding penurunannya di wilayah Jabodetabek dan Bandung.

Business Development Executive Ray White Indonesia, Robby Simon mengatakan, pasar properti di Surabaya jauh lebih baik dibanding pasar properti di wilayah Jabodetabek. Pada kuartal pertama 2020, pasar properti di Jabodetabek mengalami penurunan sebesar 50,1 persen, sementara pasar properti di Surabaya hanya tergerus di kisaran 20 persen hingga 30 persen.

"Penurunan ini pun bukan disebabkan karena daya beli yang tidak ada, tetapi lebih disebabkan karena psikologi pembeli saja. Hanya karena psikologi saja konsumen menunda pembelian. Jadi tinggal bagaimana mengubah persepsi mereka. Karena sebenarnya saat ini adalah waktu yang tepat untuk membeli properti," ujar Robby Simon saat webinar Kadin Jatim bersama Aptiknas dan Arebi Jatim, Senin (22/6/2020).

Lebih lanjut, Robby mengungkapkan, pandemi Covid-19 memang telah memberikan dampak yang cukup besar bagi banyak negara di belahan dunia, baik dari segi kesehatan ataupun ekonomi. Selain itu, ada banyak industri yang kolaps dan tutup sehingga mengakibatkan terjadinya gelombang PHK hingga memicu kemungkinan terjadinya resesi.

"Namun kondisi tersebut diperkirakan tidak akan terjadi di Indonesia. Kalau saya lihat, arahnya tidak ke sana. Daya beli masih ada dan institusi finansial juga masih bergerak positif. Saya lihat bisnis properti akan semakin cepat pulih dan semoga mulai mengarah pada kondisi recovery di semester kedua tahun 2020 ini," ujar Robby.

Menurut Robby, sebenarnya pada awal tahun 2020 pasar properti tanah air sudah menunjukkan gelagat yang cukup baik. Itu terlihat pada kuartal pertama tahun 2020, tercatat realisasi investasi properti mencapai Rp 100 triliun dengan jumlah proyek baru sebanyak 1.245 proyek di seluruh Indonesia. "Namun kinerja ini harus terhenti akibat pandemi Covid-19," tegasnya.

Mengingat pasar dan karakter konsumen sudah berubah, lanjut Robby, ada sejumlah hal yang harus diperhatikan oleh pebisnis properti agar bisnisnya tetap bisa bertahan. Pertama, perencanaan bisnis atau business plan. Kedua, produk yang dijual. Ketiga, strategi marketing atau pemasaran. Terakhir, lokasi proyek.

"Kalau dulu rumah yang diminati konsumen itu adalah rumah berkonsep Mediterania, maka sekarang sudah berubah. Konsumen saat ini lebih cenderung pada hunian yang bisa memenuhi seluruh kebutuhan mereka, rumah yang lebih luas dengan konsep hijau atau green. Kalau dulu rumah hanya berfungsi sebagai tempat istirahat, maka sekarang berfungsi sebagai empat bekerja dan juga tempat bersekolah bagi anak-anak mereka," ujarnya.

Disisi lain, lanjut Robby, strategi marketing juga harus diubah karena Covid-19 menjadi pertanda selesainya masa industrialisasi dan dimulainya masa digitalisasi informasi. Sehingga model promosi yang dilakukan harus disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

"Properti adalah kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia, tetapi market saat ini lebih banyak berbicara tentang kebutuhan. Ada dua kriteria properti yang diminati dan cepat laku, pertama hunian yang ready stock dan kedua rumah seken yang nilai jualnya di bawah pasar," pungkas Robby.

Sumber ; Beritasatu.com

Related Post